Wednesday, February 18, 2009

DARI SEJARAH PENGKHIANATAN DALAM PKI

Dari sejarah Partai Komunis Vietnam yang saya pelajari berpuluh tahun lalu, ada yang masih berkesan hingga kini dan bahkan seolah sejarah itu berulang. Beginilah dari pelajaran yang masih saya ingat. Seorang kader Vietnam yang pernah tertangkap dan dipenjarkan musuh, maka ketika dia telah bebas, kesempatan dia untuk terpilih menjadi anggota CC sudah tertutup untuk selama-lamanya meskipun umpamanya dia telah membuat jasa besar terhadap Partai bahkan hingga telah diresmikan sebagai pahlawan. Dia bisa menerima jabatan tinggi atau diangkat jadi apa saja, tapi untuk duduk di Centrral Comite Partai sudah tidak mungkin dan itu adalah peraturan Partai. Banyak pertanyaan kami sebagai pendengar mengapa demikian. Jawaban dari kawan Vietnam adalah katanya, seorang yang telah mengalami hidup dalam penjara musuh, yang telah menerima "pendidikan" musuh, bagaimanapun sudah tak mungkin dikontrol Partai kesetiaan mutlaknya karena, itu adalah sekeping sejarahnya yang selamanya gelap untuk Partai. Tentu masih banyak penjelasan-penjelas an lainnya yang lebih menambah pengertian terhadap persoalan yang terasa aneh itu.

Ketika saya mendengarkan pengalaman-pengalam an kader-kader Vietnam dalam masa revolusi dan perlawanan terhadap agresi kaum kolonialis Perancis, kader yang memberi kuliah itu di waktu istirihat ngobrol-ngobrol dengan kami dan di satu obrolan dia mengatakan dengan penuh emosi tapi juga dengan kejujuran dan ketulusan: "Kawan-kawan, saya sembah kaki kawan-kawan karena ingin menyampaikan pesan peribadi saya pada kawan-kawan, JANGAN PERNAH PERCAYA SERATUS PERSEN KEPADA SIAPAPUN MESKIPUN DI ANTARA SESAMA KAWAN, cobalah ingat-ingat pesan saya ini selama hidup kawan-kawan" . Kemudian ia menceritakan katanya bila kita telah tertangkap musuh dan menerima penyiksaan atau penderitaan lainnya dalam penjara, apakah kita masih memikirkan nasib Partai, nasib bangsa, bahkan anak istripun sudah lama dilupakan karena dalam penjara orang hanya memikirkan nasibnya sendiri dan ingin bebas dengan cara apapun bahkan cara berkhianat adalah cara yang paling banyak dipikirkan. Kader yang memberi pesan ini adalah seorang kader yang sudah kenyang penyiksaan di penjara kaum kolonial Perancis dan sesudah bebas dia banyak membuat prestasi dan jasa untuk Partai, menjadi ketua Serikat Buruh dan pula seorang penulis yang sangat terkenal di Vietnam dengan bukunya yang paling terkenal dan diajarkan di sekolah-sekolah, bukunya bernama:
"PANTANG MENYERAH"(Bat Khuat), dan nama kader dan pengarang itu adalah Nguyen Duc Thuan. Siapa orang Vietnam yang tidak kenal nama ini. Tapi dia juga tidak bisa dipilih sebagai anggota CC Partai meskipun kesetiannya telah teruji oleh bermacam siksaan kejam selama banyak tahun dalam penjara. Dia puas dan dan penuh pengertian atas peraturan yang tidak membolehkannya duduk di tempat ketinggian Partai sebagai anggota CC.

Lalu saya teringat akan PKI yang hancur lebur secara fisik, ideologi, organisasi, mental dan martabat. Dalam buku-buku tentang G30S yang ditulis oleh peneliti atau sejarawan asing maupun dari orang Indonesia sendiri, pembaca akan dijamu dengan pesta pengkhianatan yang mungkin tak ada bandingannya dalam sejarah Indonesia. Yang saya maksudkan di sini yang di bagian kader menghianati kader sama-sama PKI. Dan tidak tangggung-tangung yang berkhianat itu adalah dari puncak pimpinan PKI seperti Sudisman, Iskandar Subekti dan lain-lainnya lagi dan juga terus diikuti kader-kader tinggi lainya yang masih diberi hidup oleh suharto untuk memberi kesempatan pada mereka untuk berkhianat lebih besar dan lebih besar lagi. Mereka bercerita panjang lebar di Mahmilub maupun di depan sejarawan-sejarawan dan para peneliti asing untuk menerima pengampunan dan ilusi dibebaskan atau juga mengharapkan bayaran kecil penyambung hidup. suhato memang licik, dia bunuh tiga juta nyawa PKI dan rakyat tak berdosa lainnya sambil juga dia memelihara para pengkhianat penting yang dia biarkan hidup untuk dia paksa mengaku bahwa Ketua PKI-lah yang menjadi otak G30S. Dan berlomba lombalah para bekas kader Opor kaki (Oportunis kanan-kiri PKI) maupun Opor Buntut (Oportunis BUNtelan kenTUT) itu menjual omong kepada siapa saja yang mau membayarnya dan menganggap pengkhianatan kepada Partai dan rakyat adalah sebagai jual rokok di pinggir jalan, sebagai cara mencari nafkah sehari-hari yang biasa saja.Tentu bukan semua bekas Tapol telah berbuat begitu.

Kelicikan suharto selanjutnya adalah ketika ia memerintahkan membunuh Ketua PKI dan lalu menghabisi anggota-anggota PKI dan massa PKI lainnya dan lalu mengarahkan politiknya: semua menyalahkan Ketua PKI yang dimulai dari kader-kader tinggi PKI sendiri dan dengan intrig suharto yang demikan dia maksudkan agar rakyat Indonesia akan mengharamkan komunisme dan PKI untuk selama-lamanya karena organisasi dan ideologi demikan penuh pengkhianatan dan kekejian. Hingga sekarang suharto berhasil, juga berkat bantuan sementara penulis-penulis provokator yang berlindung dibalik nama sejarawan, peneliti, sejarawan yang bertitel kesarjanaan maupun yang masih amatir.

Tapi sayangnya penulis sejarah yang jenis kanan anti komunis maupun yang jenis kiri anti Komunis semuanya mempunya ciri suka menggunakan kata-kata yang bertaburan dari awal hingga ahir buku dengan pengulangan yang tak habis-habisnya kata-kata: BARANGKALI, MUNGKIN, BISA DIANGGAP, AGAKNYA, MUNGKIN BISA DIPERCAYA, SEANDAINYA.. . dsb,dsb yang sejenis dengan sinonim yang lain. Memang menggunakan kata-kata dugaan dan perkiraan itu akan sangat mudah membuat improvisasi dan penafsiran yang hampir tak terbatas dan jadilah buku-buku novel sejarah yang elemen fiksi-nya hampir-hampir mendominasi isi buku yang ditawarkan sebagai punya nilai sejarah dan ilmiah. Tapi tingkat yang mereka capai tidak lebih dari sensasi politik, buku primbon, rekaman kasar dari wawancara-wawancara yang dipilih sebagai sasaran yang adalah para pengkhianat PKI, terutama pimpinan tingkat tingginya yang telah merosot dan bahkan telah hancur semangat dan ide-ide revoluionernya akibat penyiksaan musuh dalam penjara dan pembuangan, akibat tekanan musuh ketika di dalam maupun setelah di luar penjara. Pesta pengkhianatan ini begitu meriah dan penuh sesaknya meskipun yang dihidangkan dalam pesta cuma secangkir pecah kopi pahit dan kacang rebus yang suduh mengkerut .Semua pengkhiantan itu mendengungkan koor satu suara dalam mengutuk dan memfitnah Ketua PKI yang dulu mereka hormati, mereka segani, bahkan yang mereka cintai dan kagumi, tapi setelah Ketua mereka dibunuh suharto, semuanya berbalik melontarkan fitnah-fitnah hianat dan palsu yang bahkan musuh-musuh mereka tercengang-cengang akan kefasihan mereka membalik semua kata-kata kekaguman di masa lalu menjadi kata-kata khianat dan laknat yang tak ada taranya yang itu semua adalah juga hasil dari "pendidikan "musuh di penjara-penjara dan tempat pembuangan dan pemblejetan diri sendiri dari segi gelap kehidupan mereka selama dalam penjara dan buangan. Begitu rendah dan hina serta najiskah PKI yang dihancurkan suharto itu? TIDAK.

Sudah pasti tidak. Nilai PKI tidak ditentukan oleh beberapa pimpinan intinya yang berkhianat seperti yang dilakukan oleh Sudisman dan Iskandar Subekti. PKI pernah besar dan dibesarkan dengan susah payah. PKI punya sejarah perjuangan yang panjang, PKI pernah berjasa pada revolusi dan pembebasan bangsa Indonesia. Kalau segelintir pimpinan PKI yang sudi berkhianat karena siksaan dan tekanan musuh, itu adalah jalan yang mereka pilih dan bukan pilihan PKI sebagai Partai Pelopor. Pengalaman berdarah yang baru lalu adalah ujian yang semakin meyakinkan bahwa semua jenis kaum Oportunis dari kaum Oporkaki hingga Opor buntut, mutlak tidak bisa dipercaya dan tidak bisa diajak bersatu karena dari kaum inilah sumber pengkhianatan dan mala petaka seperti juga yang pernah dialami oleh Partai-Partai di luar negeri sepeti Vietnam dan lain-lainnya. Dua jenis Oportunis yang hanya berbeda tingkat kekaderannya saja (Opor kaki dan Opor buntut) harus dipisakan dari gerakan revolusioner rakyat, harus selalu ditelanjangi mulut munafik mereka dan harus diwaspadai sebagai apapun mereka menyamarkan dirinya. Karena setiap penghkhianatan adalah juga bom waktu dalam kamar tidur dan dalam markas gerakan revolusioner rakyat.

Asahan Aidit.
Hoofddorp, 712009

BISAI

No comments:

Post a Comment